Tiberius Cabin
  • Home
  • Article
  • Experience
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Article
      • Experience
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Untuk memperingati kembali tragedi pembantaian terhadap 6 juta orang Yahudi di Jerman yang menimbulkan bekas luka yang tidak pernah mengering dalam kehidupan masyarakat Yahudi saat ini.

Pada era sekitar tahun 1932-1945, terjadi peristiwa fenomenal yang berhasil mengabadikan catatan kelam abad 20. Barangkali merasa kisah hidup kalian menyedihkan, mungkin kalian harus pikir ulang. Tragedi Holokaus menjadi perhatian dari banyak sejarawan karena dianggap sebagai salah satu tragedi paling konfliktual dalam sejarah hubungan internasional. Kepercayaan bahwa 'interaksi sosial selalu diwarnai oleh sistem anarkis' yang selalu dielu-elukan oleh orang-orang realis sangat dibenarkan oleh tragedi ini.

Holokaus atau yang dikenal sebagai Shoah dalam Bahasa Ibrani artinya malapetaka. Diperingati oleh hampir seluruh orang Yahudi di Israel pada setiap pertengahan bulan April, fenomena Holokaus sebenernya merujuk pada agenda genosida dan penyiksaan bangsa Yahudi-Eropa yang dilakukan secara terstruktur oleh kelompok Nazi Jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Pria berkumis unik yang mungkin dapat kalian cari sendiri rupanya di halaman pencarian Google.

Kisah hitam Holokaus bermula pada tahun 1932, ketika Adolf Hitler beserta partai yang menyokongnya yaitu Nasional-Sosialis Jerman (Nazi) berhasil memperoleh sebagian banyak kursi parlemen dalam pemilihan umum yaitu sebesar 37% suara. Diangkatnya Hitler sebagai kepala pemerintahan negara Jerman pada tanggal 30 Januari 1933 menjadi simbol kekuasaan Nazi di Jerman.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Hitler merupakan sosok aktivis sejak usia muda. Koar-koar-pake-jas-almamater-sambil-naik-mobil-di-persimpangan-jalan. Bukan, itu Fathur.

Jerman di bawah kepemimpinan partai Nazi mengalami banyak perubahan khususnya terhadap penetapan hukum-hukum yang beraspek anti-Yahudi. Hal ini dapat dilihat pada hukum rasisme yang dikenal sebagai hukum Nuremburg 1935 yang melegalisasikan sikap anti-semitism. Anti-semitism merupakan sikap untuk berprasangka buruk dan menimbun kebencian terhadap kaum Yahudi yang diwujudkan dengan penyiksaan dan diskriminasi terhadap agama, ras, maupun budaya kaum Yahudi. Masa pemerintahan Nazi di Jerman sekaligus juga melegalkan pelepasan paksa identitas kewarganegaraan Jerman bagi kaum Yahudi dan membatasi hak dan kebebasan sipil kaum Yahudi di Jerman. 

Kebencian Hitler terhadap Bangsa Yahudi


Kalian mungkin bertanya-tanya mengapa Hitler menaruh kebencian yang sedemikian besar pada bangsa Yahudi. Kebencian ini sebenarnya didominasi oleh kisah hidupnya sejak kecil yang melihat Yahudi dalam konteks negatif. Ketika usianya masih belia, Hitler mendapati kematian ibunya yang dianggap terjadi setelah dirawat oleh wanita Yahudi. Selain itu, kehidupan masa kecilnya selalu mendapati dominasi kaum Yahudi yang menempati sektor-sektor ekonomi di Jerman. Memang, kaum Yahudi pada masa itu dikenal sebagai kaum yang berada.
Beberapa sejarawan mengungkap fakta-fakta yang berbeda, bahwa kebencian Hitler terhadap bangsa Yahudi diakibatkan oleh anggapannya bahwa kekalahan Jerman pada Perang Dunia I disebabkan oleh pengkhianatan kaum Yahudi terhadap negara Jerman yang turut merangkul kaum komunis serta kaum sosial-demokratis.

source: pinterest
Tragedi Holokaus dilakukan pertama kali pada peristiwa Kristallnacht yang terjadi pada 9-10 November 1938. Sekitar 20 ribu kamp konsentrasi telah dibangun sebelumnya sebagai lokasi tahanan kaum Yahudi. Tentara Nazi kemudian membakar rumah-rumah orang Yahudi dan menggiring mereka ke Ghetto, tempat mereka dikurung dan dipaksa bekerja untuk kemudian dibawa ke kamp konsentrasi dengan kereta barang yang sempit dan pengap tanpa makanan. Perjalanan yang dilakukan dengan kereta barang terpaut beberapa hari. Kaum Yahudi yang selamat dalam perjalanan dibunuh di sebuah ruang kosong yang berisi gas beracun yang dikenal sebagai kamp maut Auschwitz-Birkenau.

Fakta yang mengerikan adalah korban yang meninggal dalam kamp maut Auschwitz-Birkenau seringkali digunakan sebagai bahan penelitian dokter-dokter bedah Nazi Jerman. 
Beberapa kasus sempat mengungkapkan dokter bedah Nazi di kamp Auschwitz-Birkenau berusaha menggabungkan dua manusia dalam satu badan. Operasi tersebut dinyatakan gagal dengan membiarkan dua orang pincang hidup dalam satu badan yang tidak sempurna.

"Buat kepentingan ilmu pengetahuan," katanya.

Pada faktanya, peristiwa percobaan penelitian dokter-dokter bedah tersebut tidak hanya menimbulkan pemusnahan terhadap kaum Yahudi di Eropa, tetapi juga berakibat pada genosida terhadap kaum komunis Jerman, kaum homosexual, bangsa Roma atau Gipsi, sekaligus orang-orang yang dianggap menyimpang menurut tata kelakuan hukum Nazi.

Holokaus dalam Perspektif Realisme
Peristiwa Holokaus yang dilakukan pada masa kejayaan Nazi sebenarnya dilakukan oleh Adolf Hitler sebagai bentuk pertahanan nasional untuk menghindar dari ancaman yang dibawa oleh kaum Yahudi. Sebagai kepala pemerintahan yang berkuasa pada masa itu, Hitler berperan dalam pergerakan negara. Hitler meyakini bahwa negara digerakkan secara rasional oleh kepentingan nasional, terutama kepentingan survival dan keamanan nasional. Tragedi Holokaus menunjukkan bagaimana manusia pada dasarnya memiliki sifat dasar homo homini lupus, bahwa manusia merupakan serigala bagi manusia lainnya. Bahwa mereka selalu berusaha meraih kekuasaan sekalipun itu menggunakan jalan kekerasan.
"Kekerasan seperti perang diperlukan dalam sistem internasional yang anarki untuk menghapus ancaman dari pihak lain sekaligus menunjukkan kesiapan kekuatan suatu negara." 
Salah seorang sejarawan berkebangsaan Yunani, Thucydides, mengatakan bahwa ancaman dapat menyebabkan ketidaknyamanan sehingga menjadi suatu hal yang lumrah apabila suatu pihak melakukan penyerangan atas kondisi ketidaknyamanan. Thucydides juga menekankan bahwa dalam menjelaskan soal politik, might lebih penting daripada right. Artinya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebuah aksi harus dilakukan terlebih dahulu untuk menghilangkan ancaman tersebut. Ini yang dilakukan oleh Hitler dalam tragedi Holokaus.
Nazi yang dipimpin oleh Hitler bertindak anarkis dijelaskan oleh pemikir-pemikir realis pendahulu seperti Machiavelli dan Morgenthau. Machiavelli menggarisbawahi penggunaan kekerasan oleh negara untuk mencapai tujuan yang diinginkannya dengan saran berupa penggunaan power sebaik-baiknya. Salah satu kontribusi pemikiran Machiavelli adalah bahwa kekuatan politik merupakan suatu hal yang terpisah dari moralitas.

Adapun Morgenthau dalam bukunya Politics Among Nations (1948) mengatakan bahwa politik internasional diatur oleh suatu hal yang objektif seperti hukum internasional yang berdasar pada kepentingan nasional. Morgenthau menganggap bahwa tidak ada negara yang memiliki “Tuhan di sampingnya”, maka semua negara dalam bertindak harus berhati-hati dan berdasar pada kepraktisan. Hitler mengambil pemikiran ini dengan menganggap kaum Yahudi sebagai ancaman bagi ketahanan nasional negara Jerman.
source: pinterest
Salah satu penyebab berlangsungnya sikap tegas Nazi terhadap kaum Eropa Yahudi pada tragedi Holokaus adalah belum adanya istilah genosida pada masa tersebut sehingga tindakan ini belum dibahas secara khusus dalam hukum internasional masyarakat dunia. Istilah genosida baru pertama kali diangkat dan menjadi isu politik internasional setelah seorang pengungsi Yahudi bernama Lemkin berhasil selamat dari tragedi kependudukan Nazi Jerman di Polandia pada tahun 1940 pada masa Perang Dunia II. Pengaruh pemikiran Lemkin mengenai definisi genosida membuahkan hasil pada tahun 1948.

Majelis umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberi perhatian khusus pada masalah genosida yang kemudian dimasukkan dalam jenis tindakan kriminal berat. Usaha Lemkin merupakan bentuk survivalitas kaum Yahudi dalam menciptakan balance of power. Usaha Lemkin terhadap PBB membentuk aliansi yang dibangun untuk mengimbangi ancaman negara agresor potensial yang dalam hal ini adalah Jerman. Negara yang dianggap memiliki otoritas tertinggi yang memegang hukum-hukum nasional mengakibatkan banyak pengungsi kaum Yahudi akhirnya berpindah dari Jerman ke Israel pada tahun 1948 dengan bantuan PBB yang menyetujui pembagian Palestina menjadi dua. 
"Tragedi Holokaus menjadi salah satu penyebab signifikan atas deklarasi kemerdekaan negara Israel pada 14 Mei 1948 sebagai negara Yahudi."
Tragedi kelam Holokaus menjadi bukti kuatnya otoritas negara dalam menggerakkan kehidupan warganya sekaligus menentukan hukum yang berlaku untuk mencapai kepentingan tertentu. Diskriminasi hingga genosida yang terjadi dalam tragedi Holokaus sekaligus membenarkan asumsi pemikir realis Hobbes dalam bukunya 'Leviathan' mengenai struggle of power, bahwa perjuangan untuk meraih kekuasaan sejalan dengan hasrat manusia yang appetite dan aversions yang tidak terbatas.
Kalau diibaratkan tokoh protagonis dalam film action, Hitler mungkin bakal mengusap kumisnya dan bilang, "Pilihannya hanya dua: membunuh atau terbunuh."

Daftar Pustaka
Buku dan Artikel dalam Buku
Bourke, Joanna, 2001. The Second World War: a People’s History. Oxford: Oxford University Press, hlm. 126-140.
Jones, Adam, 2006. Genocide: A Comprehensive Introduction. New York: Routledge, hlm. 251-380
Morgenthau, H. J., 1948. Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace. New York: Harcourt Brace & Company, hlm. 43-48.
Susilo, I Basis, 2018. Realisme dalam Vinsensio Dugis, 2018. Teori Hubungan Internasional: Perspektif-Perspektif Klasik (eds.). Surabaya: Cakra Studi Global Strategis, hlm. 49-63.
Thucydides, 1903. Reflections on the Peloponnesin War dalam Phil Williams, Donald M. Goldstein, Jay M. Shafritz, 1999. Classic Readings of International Relations (eds.). New York: Harcourt Brace & Company, hlm. 222-230.
Publikasi Online
Die, Judenzählung von, 1916. “Deutsches Historisches” Museum, Berlin. Tersedia dalam Anne Frank Stichting, https://www.annefrank.org/en/anne-frank/go-in-depth/why-did-hitler-hate-jews/ (diakses 12 Juni 2019).



Disclaimer:
Tulisan ini diilhami oleh diskusi yang dilakukan bersama Tantowi Yahya, duta keliling Republik Indonesia di wilayah Kepulauan Pasifik dan duta besar RI untuk Selandia Baru.

Kepulauan Pasifik selalu mengingatkanku pada latar dalam film Disney terkemuka, Moana. Bagaimana gadis itu mengarungi lautan dengan seruan “How Far I’ll Go”-nya meskipun sempat dilarang oleh ayahnya yang merupakan kepala penduduk. Betul, aku sedang berbicara mengenai keindahan Fiji, Kepulauan Solomon, Rarotonga, Tahiti, Bora-Bora, dan Hawaii yang menakjubkan.

Tulisan ini mungkin tidak akan seindah kisah Moana, tapi mungkin bisa jadi kilas balik yang menarik tentang manis-pahitnya hubungan putus-nyambung antara sebuah kawasan perairan yang terletak jauh di ujung dunia dengan negeri budaya, Indonesia.

Hubungan Indonesia dengan Pasifik

Kalau kalian rajin mendengarkan guru IPS mengoceh di depan kelas, kalian paham betul wilayah Indonesia terletak di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Namun, kalau kalian rajin membaca buku paket IPS kucel pinjaman dari perpus, sejarah politik Indonesia cenderung merujuk pada bagian Hindia yang menekankan Indonesia sebagai bagian dari negara di kawasan Asia Tenggara dan bukan sebagai bagian dari Pasifik. Sebuah kesalahan besar mengingat fakta bahwa sebagian wilayah Indonesia di bagian timur seperti NTT dan Papua Barat memiliki letak yang bersebelahan dengan wilayah Papua Nugini yang merupakan bagian dari wilayah Kepulauan Pasifik.

Selain itu, aspek demografis juga menunjukkan adanya persamaan ras antara penduduk di Indonesia dengan penduduk di Kepulauan Pasifik yaitu sama-sama berasal dari ras Austronesia. Dalam perkembangannya, ras Austronesia ini yang kemudian terbagi menjadi bangsa Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia yang dikenal sebagai bangsa yang menduduki kawasan Kepulauan Pasifik.
“Wilayah dan bentuk fisik kita tidak kalah serupa dengan penduduk di Kepulauan Pasifik, lantas mengapa kita tidak merasa menjadi bagian dari identitas Kepulauan Pasifik dan justru merasa dekat dengan Asia Tenggara?” – Tantowi Yahya
Ini yang seringkali tidak disadari oleh masyarakat Indonesia mengingat buku-buku pelajaran sejak sekolah dasar selalu menganggap diri sebagai bagian dari Asia Tenggara. Fakta ini tidak salah, apalagi dengan adanya kemajuan organisasi regional ASEAN, identitas dengan Pasifik jadi sering dinomorduakan. Pemikiran tersebut sebenarnya sedikit banyak didorong atas kepentingan politik Indonesia untuk meningkatkan prospek kerjasama ekonomi, keamanan, hingga politik yang dianggap lebih banyak menguntungkan apabila bergabung dengan Asia Tenggara dibanding Kepulauan Pasifik. 
See the light as it shines on the sea? It's blinding.
source: pinterest

Indonesia sempat menjalin hubungan dengan Kepulauan Pasifik jauh sejak era tahun 1980-an di bawah otoritas diplomat RI yang menjabat saat itu, Mochtar Kusumaatmadja. Indonesia melakukan beberapa upaya pendekatan terhadap Fiji yang bertujuan untuk mencapai integrasi Timor-Timur. Upaya tersebut didasari atas Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1978 yang menunjukkan Kepulauan Pasifik sebagai bagian dari kepentingan Indonesia setelah ASEAN. Namun, upaya ini tidak berjalan semulus ketek Lisa Blackpink karena bertabrakan dengan kepentingan Australia pada masa itu yang menginginkan pelepasan Timor-Timur dari Indonesia.

Kerenggangan hubungan Pasifik dengan Indonesia diperparah dengan Indonesia yang lebih berfokus pada pembentukan hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara sejak awal tahun 1990-an. Lantas bagaimana kemudian arah interaksi yang tiba-tiba menghilang?

Pendekatan Indonesia terhadap Pasifik

Di era kontemporer, upaya pedekate (re: pendekatan) atau membangun kembali hubungan dengan negara-negara di Kepulauan Pasifik didorong atas urgensi kesamaan identitas yang mulai dibangkitkan kembali. Meskipun, kepentingan Indonesia juga tidak terlepas dari upaya menciptakan citra diri yang positif di mata internasional. Bentuk keseriusan ini salah satunya diwujudkan pada tahun 2014 melalui pemberian bantuan kemanusiaan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menhumkam) Indonesia di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pedekate kali kedua ini mengalami penguatan kembali di era kepemimpinan Jokowi yang menyadari pentingnya meningkatkan profil Indonesia di mata Pasifik. Peningkatan presensi Indonesia di Pasifik salah satunya dilakukan melalui program pembangunan infrastruktur Jokowi di Papua sebagai bentuk adanya hubungan mobilitas antara Indonesia dengan negara Papua Nugini yang menjadi bagian dari kawasan Pasifik Selatan.
“Menjalin hubungan kembali dengan Kepulauan Pasifik tidak semudah jatuh kembali pada pelukan yang pernah disayang.”

Ada beberapa hambatan seperti adanya citra buruk Indonesia di mata Pasifik akibat sejarah kelam rezim yang tidak bersahabat dalam kasus konfrontasi Papua dan pelepasan Timor-Timur, adanya pandangan bahwa Indonesia merupakan negara agresif, serta adanya ketidakpahaman Pasifik mengenai konsep negara-bangsa yang memuat persatuan masyarakat dengan keberagaman ras, etnis, suku, dan agama seperti yang terjadi di Indonesia. Hal ini menimbulkan pandangan skeptis terhadap kerjasama yang berusaha dilakukan oleh Indonesia.

Kondisi ini yang kemudian membuat Indonesia mengambil jalan yang berbeda dalam memberi bantuan kepada Pasifik. Indonesia menyadari fakta bahwa kondisi keamanan dan perekonomian negara-negara Pasifik yang dijamin oleh negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, Australia, dan Selandia Baru memberi dampak sikap dependensi ekonomi bagi negara-negara di Pasifik. Indonesia mengambil cara lain yaitu melalui pemberian bantuan akses pasar bagi industri domestik Pasifik untuk mampu bersaing di pasar global. Sehingga, industri Pasifik mampu sedikit demi sedikit mengurangi dependensinya pada negara-negara maju.

Market-access yang diterapkan Indonesia ditanggapi secara positif oleh negara-negara Pasifik, terbukti dengan diwujudkankannya pameran perdagangan dan investasi di Auckland, Selandia Baru, yang dihadiri oleh industri-industri Pasifik. Pameran tersebut menghasilkan omset besar dan menimbulkan pengakuan dari negara-negara Pasifik terhadap Indonesia. Selain itu, Indonesia juga diakui lebih lanjut dalam hubungan bilateral dan multilateral dengan negara-negara Pasifik seperti Pacific Island Forum (PIF), Melanesian Sparehead Group (MSG), dan Pacific Island Development Forum (PIDF).

Selain itu, pendirian konser akbar seperti The Symphony of Friendship yang diadakan pada tahun 2018 di Wellington, Selandia Baru, juga menjadi salah satu upaya strategis Indonesia dalam mendekati Pasifik. Dengan mengundang pemusik Pasifik dan pemusik Indonesia Timur, konser akbar ini bertujuan untuk membentuk kesadaran bahwa adanya kesamaan identitas antara Indonesia dengan Pasifik.

At last, pesan terakhir yang mungkin juga menjadi pencerahan menarik dari tulisan ini.
“Bahwa pendekatan politis maupun ekonomi tidak akan berjalan efektif untuk meraih kali kedua dengan Pasifik. Perlu pendekatan hati yang menghargai tarian, musik, laut, lukisan, bahkan kerang dalam kehidupan penduduknya. Ini yang kemudian dinamakan Pacific Way.”



Referensi
Russell, Dr. Lesley, 2009. Poverty, Climate Change, and Health in Pacific Island Countries: Issues in Consider in Discussion, Debate, and Policy Development. Sydney: Menzies Centre for Health Policy.
Yahya, Tantowi, 2020. Rebounding with Our Pacific Neighbours. Disampaikan dalam webinar pada tanggal 20 Mei 2020. Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. 

Aku meyakini akan selalu ada cerita di setiap latar kehidupan yang kulalui.


Kuwait menjadi ingatan pertama dalam skenario hidup yang menempati posisi pendahuluan. Bangunan-bangunan pencakar langit hingga punggung-punggung petani menceritakan kisahnya masing-masing melalui interpretasi yang kuciptakan sendiri. Gedung-gedung hostel tua yang berjajar simetris menjadi tempatku berteduh sehari-hari. Tidak jarang, pasir-pasir halus menjadi alas bangunan kedai roti khubus, chapati, dan nasi biryani yang dikelola oleh bapak tua berketurunan India. Kalau kau bertanya bagaimana aku mengenalnya, aku selalu melaluinya setiap hari sepulang sekolah.


Iya, berjalan kaki.


Abah tidak sempat mengantar kami setiap hari ke sekolah karena urusan pekerjaan. Setiap hari, bekal seperempat Dinar Kuwait selalu disempatkan untuk membeli jus Dodo di toko kelontong yang terletak beberapa petak dari gedung utama sekolah. Umi (re: ibuku) selalu saja menggeleng, mengatakan bekal roti telur harus dihabiskan lebih dulu sebelum meminum jus itu. Tidak jarang pula, Umi memaksaku menemani beli ayam potong mentah di toko ayam bau milik bapak berkumis lebat yang ramah luar biasa.



source: pinterest
Aku menempuh pendidikan pertama di Jahra Pakistani School (JPS) Kuwait, sebuah sekolah tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar di wilayah kegubernuran Al-Jahra, Kuwait. Menjadi sebuah sekolah yang bergerak di bawah otoritas pemerintah negara Pakistan di Kuwait, sekolah ini menggunakan kurikulum Inggris mengingat koloni kulit putih itu sempat melakukan praktik kolonialisme pendidikan di Pakistan.

Aku masih mengingat bagaimana guru menyebut kata ‘lift’ dan bukan ‘elevator’, menyebut ‘colour’ bukan ‘color’, dan menyebut ‘trouser’ bukan ‘pants’. Pelajaran art menjadi satu dari sekian kesukaanku. Beruntung, sekolah ini memiliki fasilitas ruang seni yang penuh dengan berbagai clay dan alat mewarnai. Hasil karya kami yang terbaik akan dipamerkan pada science & art day yang diadakan setiap akhir semester yang mengundang para walimurid. 

Suatu waktu pada science & art day, guru memintaku untuk menjadi peraga busana Indonesia untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat awam. Meskipun awalnya senang bukan main, hari itu berujung dengan keletihan tiada tara karena harus berpose sepanjang hari. Setidaknya aku bersyukur sekolah ini berbaik hati hanya menetapkan lima hari masuk dan dua hari libur. Aku akan berangkat ke sekolah pukul tujuh pagi di hari Minggu hingga Kamis, lalu menikmati sleeping day di hari Jumat dan Sabtu. Meskipun sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali melakukan aktivitas masuk-di-hari-Minggu-dan-libur-mulai-Jumat, kebiasaan ini seringkali menjadi kepanikan hati yang tidak perlu ketika aku bangun pagi dan melihat kata ‘Sunday’ di layar gawai.

Perayaan sekolah menjadi kenangan yang tidak kalah menarik. Selain perayaan hari kemerdekaan Kuwait setiap tanggal 25 Februari yang mewajibkan siswa untuk mengenakan pakaian berwarna bendera Kuwait (hijau, putih, merah, dan hitam), ada juga Gargee’an atau Gergean Day yang merupakan hari cokelat bagi anak-anak. Saat Gergean, kami diwajibkan untuk membawa sejumlah cokelat ke sekolah untuk kemudian ditukarkan dengan anak lain.

Aku tahu apa yang kalian pikirkan tapi bukan, Gergean bukan Valentine.

Berbeda dari Valentine, Gergean tidak dimaksudkan untuk menyatakan kasih sayang pada lawan jenis tetapi lebih pada bentuk kemanusiaan. Di hari Gergean, Umi akan membawakanku beragam merk cokelat dari supermarket yang terletak beberapa petak di belakang hostel kami dan dimasukkan ke dalam kantung-kantung lucu bergambar karakter kartun seperti Barbie atau Cars. Kantung itu seringkali kutukarkan dengan Manar dan Du’a yang merupakan dua dari sekian banyak teman-teman di kelasku yang aku bahkan tidak mengenalnya.

Berbeda dari sistem sosial di Indonesia, sekolah kami tidak begitu mewajibkan interaksi antar satu siswa dengan siswa lainnya. Pada Gergean, guru-guru akan mengumpulkan anak-anak di lapangan sekolah dan membuat hujan cokelat dari lantai empat sekolah sehingga kami semua dapat pulang dengan membawa cokelat.

Tidak ada yang spesial dari kehidupanku selain bersekolah, memakan chapati, dan main game di laptop. 

"Namun, ruang tamu hostel yang bernuansa hijau menjadi saksi bisu dari separuh kebahagiaan masa kecilku."

Di Kuwait, Umi membuka layanan pembelajaran TPA (Taman Pendidikan Anak) secara gratis untuk anak-anak Indonesia yang diadakan beberapa kali seminggu di ruang tamu hostel keluarga kami. Pembelajaran ini sifatnya interaktif dan selalu diadakan pada jam setelah ibadah shalat Maghrib agar tidak mengganggu kegiatan sekolah. Bak seorang guru, Umi akan mengajari permainan kelompok, Al-Qur’an, dan aqidah Islam. Melupakan sejenak sifat galaknya ketika mengajar, bercanda mi. Kami  (re: anak-anak TPA) akan memutarbalikkan sofa dengan tangan-tangan kecil ini untuk kemudian menjadikkannya sebagai lorong atau gua.

Karpet hijau batik milik Umi seringkali digulung rapat-rapat untuk kemudian dinaiki dan dijadikan motor. Suatu waktu, ruang tamu kami juga dijadikan sebagai lahan bermain playstation 2 serta lahan untuk bermain sepatu roda yang dibeli masing-masing di hari sebelumnya. Meskipun, permainan itu tidak berlangsung lama karena Umi menyuruh kami mengulang bacaan shalat. TPA menjadi momen bertemunya aku dengan banyak teman-teman Indonesia yang kini sudah beranjak dewasa dan menempuh pendidikan lebih lanjut di Indonesia, Kuwait, bahkan negara lain seperti Turki dan Mesir. 

Terlepas dari banyaknya kejadian menarik, nasionalisme menjadi isu yang seringkali berputar di benakku. Mengatakan pada diri sendiri mengapa lagu kebangsaan Kuwait “an-Nashīd al-Waṭani” lebih dulu diingat dari “Indonesia Raya”. Namun, berulang kali pula mencoba menghargai diri sendiri bahwa aku dan keluarga cukup sering mengunjungi KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Indonesia di Kuwait City untuk kembali mengingat diri sebagai bagian dari Indonesia. Entah untuk sekadar merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus, hari pahlawan, ataupun tahun baru bersama orang-orang Indonesia lainnya.

Suatu waktu di acara perayaan idul fitri di KBRI, aku merasa tersindir ketika mendapati seorang anak yang sepantaran denganku berbicara menggunakan bahasa Sunda kepada ibunya. “Kerupukna ngeunah nya,” katanya. Seolah mengejek kemampuanku berbahasa Sunda dan Jawa (yang merupakan etnis masing-masing kedua orangtuaku) yang nol besar. Sunda tak bisa, Jawa pun tak lancar. Ibuku hanya tertawa ketika aku memaksanya mengajari bahasa Sunda. Ini menjadi pelajaran penting ketika aku menapakkan kaki di Kediri pada Juli 2010 bahwa, 

"Bagaimana bahasa daerah menjadi identitas yang dapat dibanggakan ketika nantinya aku terbang ke belahan dunia lainnya dan menjadi identitas yang tidak akan dapat dipisahkan oleh pengalaman hidup apapun."

Newer Posts Home

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
  • ▼  2020 (3)
    • ▼  July (3)
      • Mengais Darah Tragedi Holokaus
      • Kali Kedua dengan Pasifik
      • Tentang Kuwait Sepuluh Tahun Lalu

Categories

  • Experience
  • Opinion
  • Scientific Article

AUTHOR




Currently living in Indonesia. In process to reach balance between dreams and blessing. Kindly value peacefulness and share.

Direct Message

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.

Contacts

  • [ Instagram ]

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates